• Indonesia
Sri Mulyani Akan Lihat Faktor Kembali Menguatnya Dolar AS
Berita

Sri Mulyani Akan Lihat Faktor Kembali Menguatnya Dolar AS

Nilai tukar Amerika Serikat (AS) pagi tadi, Rabu (9/26) kembali menguat ke angka Rp 14.935. Menanggapi itu, Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan pihaknya akan mencari tahu penyebabnya. Dia menyatakan pihaknya akan melihat penyebab dolar AS kembali menguat. Apakah karena faktor eksternal atau internal.

"Ya kita akan terus melihat dinamika yang terjadi, selalu trigernya kalau memang bersal dari luar, maka kita harus mencoba untuk mengadjust atau menyesuaikannya," kata Sri.

Namun jika penguatan dolar AS ikut dipengaruhi oleh kondisi di dalam negeri, pemerintah akan berupaya menyelesaikan persoalan tersebut. "Kalau dinamikanya juga kontribusi dari dalam, maka kita juga harus menyelesaikan persoalan dalam negeri kita," papar Sri.

Dia menekankan pemerintah dalam menyikapi penguatan dolar AS ini akan selalu melihat kedua faktor tersebut, baik internal maupun eksternal. "Jadi kita akan selalu melakukan kombinasi di antara dua itu," tambah Sri.

Rupiah melemah 0,1 persen dibandingkan penutupan perdagangan kemarin. Sementara itu, harga jual dolar AS di beberapa bank nasional hampir menembus Rp 15.000 per dolar AS.  Rupiah tergelincir karena situasi dagang yang semakin tegang antara dua ekonomi terbesar di dunia, yaitu AS dan Tiongkok.

"Investor memilih untuk waspada di awal pekan perdagangan ini setelah China membatalkan rencana negosiasi dagang dengan pemerintah AS di akhir pekan," ujar Lukman Otunuga, Analis Forextime.

Menurutnya, sentimen pasar semakin memburuk di saat Presiden AS, Donald Trump, mulai memberlakukan tarif terhadap 200 miliar dolar AS barang Tiongkok di hari Senin kemarin. Tiongkok diperkirakan untuk membalas dengan tarif terhadap 60 miliar dolar AS barang AS sehingga penghindaran risiko sepertinya akan semakin tinggi dan menekan rupiah serta mata uang pasar berkembang lainnya.

Walaupun sentimen pasra tetap sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi dagang global, fokus terbesar juga akan tertuju pada rapat The Fed pekan ini. Suku bunga AS diprediksi akan ditingkatkan di bulan September dan mungkin ditingkatkan kembali untuk keempat kalinya di bulan Desember.

"Kenaikan suku bunga mendatang ini sudah sangat diperhitungkan dalam harga saat ini. Tapi masih dapat memicu arus keluar modal dari pasar berkembang, termasuk Indonesia," tandasnya.

Lukman menyebut, Bank Indonesia (BI) akan menjadi pusat perhatian di hari Kamis besok. Diperkirakan akan meningkatkan suku bunga untuk kelima kalinya sejak pertengahan bulan Mei dapat membantu rupiah. Meskipun penurunan berulang kali dalam beberapa pekan terakhir memastikan bahwa rupiah tetap tertekan oleh berbagai faktor eksternal.

"Ketegangan dagang AS-China memicu ketidakpastian dan ekspetasi kenaikan suku bunga Fed mendukung dolar sehingga rupiah tetap rentant mengalami kejutan negatif. Dari teknis, dolar rupiah dapat menantang level 14.900 di jangka pendek apabila dolar terus diuntungkan oleh arus safe haven," tutur Lukman.

You can share this post!

Comments