• Indonesia
Teguh Afriadi: Pemecahan Permanen Pinjaman Online Ilegal, ya dengan Literasi
Keuangan

Teguh Afriadi: Pemecahan Permanen Pinjaman Online Ilegal, ya dengan Literasi

Kedatangan fintech p2p lending ilegal ataupun yang kerap diketahui dengan pinjaman online ilegal masih merebak di golongan warga. Satgas Waspada Investasi (SWI) OJK semenjak tahun 2018 sampai Juni 2021 ini mengaku sudah memblokir 3.193 pinjol ilegal yang tersebar di masyarakat.

Kominfo Berhasil Blokir Sejumlah Pinjaman Online Ilegal

Bila merujuk informasi Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), selama tahun 2021 ini telah terdapat 447 fintech yang ditutup. Rinciannya, 191 fintech ditemui lewat filesharing, 105 fintech lewat aplikasi, 76 fintech yang terdapat di media sosial, serta 75 fintech yang melaksanakan operasinya di web.

Pimpinan Satgas Waspada Investasi OJK Tongam L. Tobing mengatakan, sejatinya pinjol dapat tidak menyengsarakan warga sebab membantu mendanai kebutuhan warga. Dia merujuk pada informasi OJK yang saat ini jumlah nasabah fintech mencapai 60 juta dengan pinjaman dana akumulatif dapat mencapai hampir Rp 150 triliun.

Menurut Tongam yang menyengsarakan warga itu pinjol ilegal yang tengah marak. Sepanjang ini, Satgas Waspada Investasi menanggulangi maraknya pinjol ilegal ini dari 2 sisi, ialah sisi pelaku serta sisi pemakai.

Tongam mengatakan, dari sisi pelaku, grupnya senantiasa melaksanakan patroli siber bersama dengan kominfo serta memblokir web yang dikenali sebagai pinjol ilegal.

Tongam menambahkan bahwa dalam proses patrol ini, web pinjol ilegal telah diblokir setiap hari sebelum ada yang berhasil mengaksesnya. Meskipun sudah diblokir hari ini, hari berikutnya mereka membuat web baru lagi. Maka memang sangat susah bagi pihaknya untuk memberantas pinjol ilegal ini jika hanya dari sisi pelaku.

Jika dari sisi peminjam, Tongam berkata literasi kepada warga masih sangat dibutuhkan. Dalam perihal ini, dia menyoroti terdapat 2 jenis warga yang terdapat saat ini ialah warga yang memanglah tidak mengenali terkait status ilegal dari pinjol serta warga yang terpaksa meminjam sebab kebutuhan dana.

Oleh sebab itu, Tongam berharap supaya tidak melulu menyalahkan dari sisi pelaku tetapi memandang pula dari sisi peminjamnya. Dia menambahkan bahwa sepanjang ini grupnya terus mengedukasi warga supaya meminimalisir pinjaman ke pinjaman online ilegal.

Menurut Tongam, kesalahan terbanyak dari warga itu mereka kebanyakan meminjam untuk gali lubang tutup lubang, tak heran memang terdapat guru honorer di Semarang meminjam ke 114 pinjol. Harusnya dia tidak melakukan itu dan menyudahi pinjamannya di tahap yang ke tiga.

Plt. Direktur Pengendalian Aplikasi Informatika Kementrian Komunikasi serta Informatika, Teguh Arifiadi setuju kalau bimbingan untuk warga terpaut pinjol ilegal itu jadi perihal utama dalam pemberantasannya.

Baginya, warga harusnya mengidentifikasi identitas fintech ilegal dan mengenali resiko dari pemakaian pinjol ilegal.

Teguh mengatakan jika pemblokiran yang dilakukan hanyalah salah satu pemecah yang cukup mengurangi, tetapi bukan menjadi solusi permanen atas pemecahan masalah penanggulangan pinjol ilegal. Pemecahan permanennya yakni dengan melakukan literasi pada masyarakat luas.

Terlebih, Teguh menambahakan bahwa Kominfo kesusahan untuk memblokir keberadaan pinjol ilegal yang terdapat di aplikasi messaging, sejenis dengan Whatsapp dan Telegram.

Sementara itu, baginya banyak pinjol ilegal yang saat ini mulai pindah berkeliaran ke layanan obrolan tersebut mengingat bila lewat aplikasi yang terdapat di playstore ataupun applestore, mereka akan kesusahan mendapatkan informasi individu pengguna.

Dalam sesi akhir wawancaranya, Teguh mengatakan bahwa secara teknis pihaknya kesusahan berpatroli lantaran pemerintah tidak memiliki akses ke layanan obrolan yang dipakai oleh masyarakat, sehingga pihaknya hanya mampu menghalangi pinjaman online ilegal yang bertebaran di web dan aplikasi.

 

You can share this post!

Comments