• Indonesia
Tingkat Kepercayaan Investor Masih Cukup Tinggi
Properti

Tingkat Kepercayaan Investor Masih Cukup Tinggi

Investor asing masih terus melepas sahamnya di Indoensia dengan melakukan penjualan bersih Rp 149,25 miliar. Padahal kondisi pasar seperti properti Ibu Kota yang sekarang dalam pasokan berlebih di beberapa sektor akan memberikan peluang kepada investor asing untuk masuk dan bekerja sama dengan pemilik tanah dari properti lokal yang dinilai memiliki lokasi sangat strategis.

Hal tersebut karena investor asing dinilai membawa cash flow atau aliran dana yang sangat kuat sehingga mereka tidak terlalu tergantung kepada penjualan sales awal. Investor asing yang masuk ke Indonesia rata-rata berbicara untuk jangka panjang, yaitu tidak hanya lima tahun, tetapi bisa sampai sekitar 20 tahun.

Apalagi siklus properti juga akan berjalan naik turun sehingga bisal saat ini siklus properti Jakarta sedang turun, maka pada saat siklusnya naik, para investor asing ke depannya juga sudah memiliki properti di lokasi yang premium. Sementara itu, investasi asing langsung (foreign direct investment) juga menurun jika dibanding periode sebelumnya.

Di sisi lain, investor asing terpantau cukup gencar melepas saham-saham barang konsumsi. Saham GGRM dilepas senilai Rp 7,57 miliar, KLBF Rp 2,89 miliar, INDF Rp 930,8 juta dna HMSP Rp 155,3 juta. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, (11/12) memang dibuka kembali melemah.

Masih terpengaruh sentimen negatif ekternal yang memicu pada investor, terutama asing melakukan aksi jual saham. Pelemahan IHSG terimbas oleh pergerakan bursa saham di kawasan Asia yang akhirnya memicu aksi jual saham, terutama investor asing. "Tingkat kepercayaan investor masih cukup tinggi terhadap pasar modal Indonesia seiring fundamental ekonomi kita yang masih baik, sehingga tekanan di pasar diharapkan sementara," kata William Surya Wijaya, Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas.

Aksi jual investor asing di bursa domestik masih berlanjut hingga kemarin, Senin (10/12). dalam sepekan, akumulasi jual bersih alias net sell di pasra reguler mencapai Rp 2,08 triliun. Menurut data RTI, saham penghuni indeks LQ45, seperti BBCA, ASII, TLKM, BMRI dan BBRI, paling banyak dilego asing.

Faktor eksternal menyebabkan asing mengurangi kepemilikan saham Asia dan emerging market. Maklum, resesi megnintai perekonomian Amerika Serikat (AS). Belum lagi belum ada sinyal ketegangan perang dagang berakhir.

Aksi jual asing jug terjadi karena mendekati libur akhir tahun. Selain itu, masih banyak tantangan yang dihadapi pasra modal ke depan terkait makro ekonomi. DI antaranya defisit transaksi berjalan dan risiko perlambatan ekonomi.

Artinya, net sell masih rawan berlanjut. "Apalagi kalau AS resesi, pertumbuhan ekonomi kita akan terdampak dari sisi ekspor. Rupiah juga akan terimbas," jelas Harry Su, Managing Director Head of Equity Capital Market Samuel Internasional.

You can share this post!

Comments