• Indonesia
Utang Luar Negeri Indonesia Dekati Batas Bahaya?
Analisa

Utang Luar Negeri Indonesia Dekati Batas Bahaya?

Posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir November 2018, tercatat telah berada di angka 372,9 miliar dolar AS (Amerika Serikat). Posisi ini naik 12,3 miliar dolar AS dibandingkan posisi pada akhir bulan sebelumnya. Status utang luar negeri Indonesia dianggap telah memasuki fase lampu kuning karena debt to sercie ratio (DSR)-nya yang menurun ke angka 24 persen.

Artinya, utang luar negeri mulai tidak sehat. "Mendekati batas yang berbahaya," tegas Bhima Yudhistira, peneliti Institute Development of Economics and Finance (Indef).

Dijelaskan setidaknya ada dua indikator yang dapat menunjukan sehat tidaknya utang luar negeri sebuah negara. Pertama, dilihat dari rasionya terhadap produk domestik bruto (PDB). Lalu yang kedua, diselisik dari rasio DSR-nya atau perbandingannya dengan penerimaan devisa ekspor.

Rasio utang luar Indonesia terhadap PDB pada akhir November 2018, bertengger di kisaran 34 persen. Jika hanya dilihat dari rasio ini, posisi utang luar negeri Indonesia sebenarnya cukup stabil. Pasalnya dalam aturan, batas rasio utang luar negeri mencapai 60 persen.

Hanya saja yang perlu menjadi kewaspadaan adalah makin tingginya DSR utang luar negeri Indonesia. Posisinya yang kini mencapai 24 persen diklaim merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. "Di atas Indonesia hanya ada beberapa negara. Salah satunya Turki mencapai 40 persen. Itu pun krisis," ungkap Bhima.

Tingginya DSR Indonesia ini pun menjadi lampu kuning. Mengingat batas aman DSR normalnya adalah 25 persen. Tingginya DSR nusantara juga menunjukan ketidakmampuan utang untuk mendorong produktivitas ekonomi melalui kinerja ekspor.

Disebutkan ketidakmampuan tersebut tampak jelas dari kinerja ekspor di sepanjang 2018 kemarin. Ekspor Indonesia pada 2018 tercatat bertengger di nilai 180,06 miliar dolar AS. Hanya naik 6,65 persen dibandingkan nilai ekspor pada 2017.

Mengnaai utang luar negeri Indonesia sendiri, nilainya yang menyentuh 372,9 miliar dolar AS terdiri atas utang pemerintah dan bank sentral sebesar 183,5 miliar dolar serta utang swasta termasuk BUMN sebesar 189,3 miliar dolar AS.

Untuk utang pemerintah dan bank sentral, sebagian besar dihasilkan untuk membiayai sektor administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial wajib. Besarannnya mencapai 130,98 miliar dolar AS atau setara 71,38 persen dari total utang pemerintah dan bank sentral secara keseluruhan.

Sementara itu, utang luar negeri dari swasata didorong neto pembelian surat utang korporasi oleh investor asing. Utang luar negeri swasta tersebut sebagian besar dimiliki sektor jasa keuangna dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap atau air panas (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.

Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terdapat total utang luar negeri swasta mencapai 73,9 persen. Sebagian besar utang luar Indonesia saat ini memang masih didominasi utang jangka panjang di atas 1 tahun. Presentasenya mencapai 86,75 persen dari total utang luar negeri pada akhir November.

Nilainya terpantau di angka 323,5 miliar dolar AS. Secara tahunan, utang luar negeri Indonesia pada akhir November 2018, tumbuh 7,0 persen secara yoy. Pertumbuhan ini lebih kencang dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya 5,3 persen secara yoy.

Laju peningkatan yang cukup kencang menjelang akhir tahun ini karena adanya kebutuhan pemerintah untuk menutup defisit anggaran. Di sisi lain, pemerintah juga membutuhkan kucuran dana untuk pembiayaan belanja rutin di awal tahun ini.

Guna membuat utang luar negeri kembali sehat, diminta pemerinah menahan lau pengeluaran yang sifatnya konsumtif. "Iming-iming bunga 8 persen menarit minat asing. Ibaratnya aji mumpung, pemerintah di akhir tahun agresif terbitkan utang," pungkas Bhima.

You can share this post!

Comments