Pemerintahan Baru Warisi Utang Jokowi, Jika Prabowo Jalankan Kebijakan Sama Maka Indonesia akan Krisis

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 17 September 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Joko Widodo bersama Presiden terpilih Prabowo Subianto. (Facebook.com @Prabowo Subianto)

Presiden Joko Widodo bersama Presiden terpilih Prabowo Subianto. (Facebook.com @Prabowo Subianto)

Oleh: Prof Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina

HARIANEKONOMI.COM – Utang negara dengan utang privat milik warga negara itu bedanya antara bumi dengan langit.

Tapi jika satu institusi, satu lembaga, satu aturan main, satu regulasi yang ada dalam negara, itu adalah satu tanggung jawab yang berbeda satu sama lain.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika warga negera secara privat mengambil utang dengan keputusannya sendiri.

Mau banyak, mau sedikit, mau kenceng, mau lambat, itu tidak ada kaitan dengan siapapun. Karena itu domain pribadi.

Tetapi utang negara, satu kali keputusan mengambil utang sedemikian besar, maka karena harus membayar cicilan utang dan pokok yang pasti semakin besar.

Dampaknya anggaran pendidikan berkurang, anggaran unuk daerah berkurang.

Oleh karenanya seluruh keputusan yang dilakukan oleh pejabat negara soal utang ini akan berpengaruh ke kanan ke kiri.

Dari pengambilan keputusan di domain publik itu, seharusnya menyertakan secara demokratis pihak-pihak yang terkait di dalam utang tersebut.

Yaitu pembayar pajak, masyarakat, demokrasi, dan sebagainya.

Dan di dalam proses demokrasi sistem yang kita jalankan harus ada check and balance.

Nah sekarang setelah 10 tahun Jokowi berkuasa, dan pura-pura lugu. Pura-pura enggak ngerti apa-apa.

Ternyata setelah 10 tahun kelihatan, bahwa sebenarnya pemerintahan ini dijalankan secara otoriter oleh Raja Jawa.

Selama ini tidak ada seorangpun di lembaga, DPR, Parlemen yang menjaga dengan check and balance pengambilan keputusan-keputusan itu.

Sehingga saat ini hutang kita bisa mencapai hampir 10 ribu triliun. Dan dampaknya untuk bayar bunga saja sudah sedemikian besar setiap tahun.

Pemerintahan baru Pabowo, pasti akan mewarisi hutang itu.

Kalau nanti berhutang lagi, dengan menjalankan kebijakan yang sama dengan Jokowi.

Maka seperti yang dikatakan alm.Faisal Basri, Insyaallah kita akan krisis. Akan lebih dalam krisisnya.

Jika Luhut dan lain-lain menyebut rasio utang kita thd PDB belum 100%, maka kalau dibandingkan dengan Jepang meskipun utang Jepang 100% tapi kalau bunganya 0,7-0,9%, maka pembayaran bunga nya saja akan kecil.

Dia punya hutang 500 T hanya membayar 30 triliun/years. Indonesia, dengan hutang 8500 T skrg maka kita harus bayar 500 triliun/T bunganya saja.

Sekarang suku bunga yang tinggi BI sudah mengeluarkan SBN. Itu menyebabkan BI lenggang kangkung saja atas korban dari sektor sektor riil.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infobumn.com dan Harianinvestor.com

Jangan lewatkan juga menyimak berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Terkinipost.com dan Hariancirebon.com

Sedangkan untuk publikasi press release di media ini atau serentak di puluhan media lainnya, klik Rilisbisnis.com (khusus media ekbis) dan Jasasiaranpers.com (media nasional)

Atau hubungi langsung WhatsApp Center Rilispers.com dan Persrilis.com: 085315557788, 087815557788, 08111157788.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News.

Berita Terkait

Loker Gemilang Berikan Solusi Bagi Tenaga Honorer yang Tidak Jelas
PR Newswire – PSPI Perluas Sebaran Informasi Korporasi melalui Jaringan 175 Media Online Lokal
TEI ke-40 Resmi Ditutup, Mendag Busan: Transaksi Lewati Target, Capai USD 22,80 Miliar
Laju Anggaran Kementerian Melambat, Dana Rp168,5 Triliun Akhirnya Mengalir
Komoditas dan Geopolitik Tekan Sentimen, CSA Index Turun 65,4
Perundingan Tarif Resiprokal Indonesia-Amerika: Keseimbangan Neraca Dagang Jadi Fokus Utama
BBM Shell Super Kembali Tersedia, Pemerintah Buka Opsi Pasokan Pertamina
Kredit Murah Menanti, BI Pastikan Bunga Turun Secara Bertahap

Berita Terkait

Rabu, 26 November 2025 - 17:27 WIB

Loker Gemilang Berikan Solusi Bagi Tenaga Honorer yang Tidak Jelas

Rabu, 19 November 2025 - 13:56 WIB

PR Newswire – PSPI Perluas Sebaran Informasi Korporasi melalui Jaringan 175 Media Online Lokal

Senin, 20 Oktober 2025 - 18:00 WIB

TEI ke-40 Resmi Ditutup, Mendag Busan: Transaksi Lewati Target, Capai USD 22,80 Miliar

Rabu, 24 September 2025 - 08:14 WIB

Laju Anggaran Kementerian Melambat, Dana Rp168,5 Triliun Akhirnya Mengalir

Sabtu, 13 September 2025 - 00:16 WIB

Komoditas dan Geopolitik Tekan Sentimen, CSA Index Turun 65,4

Berita Terbaru