Pakan Mandiri Selamatkan Pembudidaya

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 28 Agustus 2023 - 14:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerakan Pakan Ikan Mandiri. (Dok. Pribadi)

Gerakan Pakan Ikan Mandiri. (Dok. Pribadi)

HARIANINDONESIA.COM – Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menjaga keberlangsungan usaha di sektor kelautan dan perikanan.

Seperti Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) yang terus dikampanyekan untuk menyokong kemajuan sub sektor perikanan budidaya. Pakan Mandiri ini diyakini akan menjadi solusi untuk menekan biaya produksi.

Upaya ini juga akan berdampak luas tidak hanya bagi pembudidaya, namun masyarakat umum yang menjadi target untuk mengkonsumsi ikan, UMKM pengolah hasil perikanan, sampai konsumen paling hilir pun ikut merasakan yang dilihat dari ekonomisnya harga ikan dipasaran.

Dengan pakan mandiri, harga produksi dan harga jual ikan akan semakin ramah dan memiliki dampak ekonomi akan dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat.

Ini sejalan dengan Langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang terus berusaha memastikan keberlangsungan usaha kelompok pembudidaya ikan skala kecil yang jumlahnya mencapai 80%, sehingga diharapkan dapat menghasilkan panen yang maksimal.

Instruksi Presiden Joko Widodo telah sangat jelas, bahwa setiap Kementerian harus melakukan refocusing program-program yang berdampak secara langsung kepada masyarakat serta menjamin daya beli masyarakat tetap terjaga sehingga roda ekonomi terus berputar.

Tanpa pakan mandiri, pembudidaya akan direpotkan dengan mahalnya ongkos produksi. Sebab komposisi biaya produksi budidaya ikan terbesar adalah berasal dari biaya pakan yang mencapai 70%.

Karena itulah pemerintah melalui KKP mendorong pembudidaya ikan skala kecil untuk mengganti penggunaan pakan pabrikan dengan pakan ikan mandiri, dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.

Jika tidak memungkinkan pergantian pakan komersil secara 100%, minimal masyarakat bisa menggantikan 50% pakan komersilnya dengan pakan mandiri.

Masyarakat tidak perlu khawatir dengan bagaimana cara membuat pakan mandiri, saat ini sejumlah peneliti sudah melakukan riset mengenai nutrisi alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti pakan komersil.

KKP pun memiliki penyuluh handal yang tersebar di penjuru negeri yang siap mengedukasi masyarakat pembudidaya dalam membuat pakan mandiri.

Saya sendiri telah melakukan penelitian pada tahun 2015 mengenai penggunaan kapang Trichoderma viride sebagai starter fermentasi pada feses sapi yang diaplikasikan pada ikan lele.

Baca Juga:

Ekonomi Indonesia Tumbuh 8 Persen dalam 2-3 Tahun ke Depan, Prabowo Subianto Optimistis Mampu

Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Tingkatkan Mata Uang Lokal dalan Transaksi Bilateral, Bank Indonesia dan Bank Sentral Uni Emirat Arab Kerja Sama

Perkuat Kapabilitas Digital, BRI Jalin Kerja Sama dengan Tencent Cloud dan Hi Cloud Indonesia

Hasil yang didapatkan memang tidak bisa menggantikan 100% jumlah kebutuhan nutrisi pada ikan lele, tetapi 50% pakan fermentasi yang telah dicampur oleh pakan komersil atau tepung ikan berprotein tinggi bisa menggantikan nutrisi pakan komersil. 

Secara rinci dapat dijelaskan bahwa feses sapi yang telah dikeringkan mengandung jumlah sukrosa yang cukup tinggi.

Ini tentu bisa dimanfaatkan untuk pengganti energi ikan dan bisa menjadi lemak pada ikan.

Tujuan dari fermentasi sendiri adalah untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan memecah senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana, sehingga ikan melakukan proses berkembang biak dan pertumbuhan tidak perlu banyak mengeluarkan kalor dan energi untuk mencerna makanan.

Secara ilmiah, ketika pakan ikan masuk pada usus, biasanya pada pankreas akan memproduksi enzyme brush border yang berfungsi untuk memecah senyawa yang terdapat pada pakan tersebut, dimana senyawa tersebut diantaranya adalah protein, karbohidrat dan lemak yang dapat secara langsung akan tersebar keseluruh tubuh ikan melalui darah. 

Dengan telah dilakukannya fermentasi ini, ikan diharapkan tidak terlalu kesulitan dan mengeluarkan energi/kalor dalam proses pemecahan, karena sebelum dimakan kita telah melakukan fermentasi yang memecah senyawa tersebut menjadi senyawa yang lebih sederhana dan mudah dicerna oleh ikan tersebut.

Hal ini tentu akan berdampak pada pertumbuhan ikan dan kitab isa mengakalinya tanpa terlalu banyak menggunakan pakan komersil yang terlalu mahal.

Pakan alternatif ini bisa memanfaatkan bahan-bahan alam yang bisa digunakan seperti ikan rucah, tepung tapioka, tepung fermentasi daun singkong serta bekatul.

Alasan pemilihan bahan-bahan tersebut karena mudah didapat dan banyak ditemui pada lingkungan sekitar masyarakat pembudidaya.

Selain itu kandungan nutrisi yang terdapat dalam bahan-bahan tersebut setara dengan pakan yang diproduksi oleh pabrik, sehingga dapat memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan.

Sebagai bentuk komitmen dari KKP selaku Pembina dibidang Kelautan dan Perikanan, melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan Perikanan (BPPSDM KP) telah melakukan inovasi kegiatan berupa Smart Fisheries Village (SFV) atau Desa Perikanan Cerdas.

Dalam acara Bincang Bahari dengan tema Smart Fisheries Village yang diadakan pada 21 Juli 2022 silam I Nyoman Radiarta Kepala BPPSDM KP telah menjabarkan dari kegiatan SFV adalah “Sebuah model pembangunan desa dari hulu sampai hilir dengan memperhatikan penerapan teknologi informasi, komunikasi, dan juga manajemen tepat guna. Harapannya, dengan memanfaatkan seluruh potensi tersebut, dapat sebagai (menjadi) pengungkit untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa.”

“Dan program ini sebenarnya sangat in line dengan program peningkatan produktivitas perikanan budidaya dan juga kampung-kampung (desa) perikanan budidaya berbasis kearifan lokal, dan juga in line dengan program sebelumnya yang dimiliki oleh BPPSDM KP yaitu desa inovasi dan juga desa mitra,”.

Hal ini tentu menjawab keresahan masyarakat selama ini tentang bentuk komitmen pemerintah, dengan adanya SFV masyarakat dibentuk menjadi mandiri dan siap menghadapi persaingan global.

Masyarakat dibentuk agar bisa menciptakan kegiatan usahanya di bidang kelautan dan perikanan secara konsisten dari hulu ke hilir, sebagai contoh masyarakat pembudidaya disiapkan untuk bisa memproduksi benih, pakan secara mandiri, sampai dengan kegiatan usaha pasca panen baik itu pengolahan atau lainnya.

Dengan demikian masyarakat pembudidaya tidak terbelenggu pada rantai sistem usaha yang hanya menguntungkan salah satu pihak. Sehingga secara bertahap akan terbentuk Desa Perikanan Cerdas yang siap mendukung Ekonomi Biru dan Perikanan Emas 2045.

Penggunaan pakan mandiri ini masyarakat pembudidaya bisa memanfaatkan potensi-potensi lokal yang ada disekitarnya, sebagai contoh ikan curah yang sebelumnya hanya menjadi limbah dan dianggap tidak memiliki nilai ekonomis ternyata bisa dimanfaatkan menjadi bahan pembuat pakan yang memiliki kandungan protein tinggi yaitu sekitar 60,95 persen.

Selain itu, penggunaan tepung tapioka sangat penting selain sumber karbohidrat juga berfungsi sebagai binder pakan, yaitu pakan dengan material lainnya.

Tepung tapioka juga bermanfaat agar pakan tidak mudah hancur dalam air, mengingat pakan yang dibuat adalah pakan tenggelam.

Dengan menggunakan pakan mandiri, pembudidaya hanya perlu mengeluarkan biaya operasional pada pakan sebesar Rp 5000,- sampai dengan Rp 7000,- per kilogram.

Hal ini tentu sangat berbanding jauh dengan harga pakan komersil yang saat ini mencapai kisaran Rp 18000 per kilogram.

Pakan ikan berbasis mandiri ini terus dilakukan inovasi serta diharapkan bisa menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya ikan.

Secara keseluruhan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya ikan yang berdampak pada daya beli dan perputaran ekonomi pada tingkat masyarakat.***

Berita Terkait

Tiongkok Diminta Dukung Implementasi Kawasan Industri Kaltara, Termasuk Investasi Industri Petrokimia
Jika Political Will Pemerintah Setengah Hati maka Transisi Menuju Energi Terbarukan akan Sulit
Peningkatan CSA Index Juni 2024 ke 60 Menunjukkan Harapan Baru Bagi Kinerja IHSG
Perkuat Koordinasi dalam Penyusunan RAPBN 2025, Tim Gugus Tugas Sinkronisasi Kunjungi Menkeu
Tingkatkan Kerja Sama Perdagangan, Investasi, dan Industri, Indonesia dan Rusia Bahas Langkah Strategis
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati Ungkap Alasan Pertumbuhan Ekonomi pada 2025 akan Naik
Ekonomi Indonesia Tumbuh 8 Persen dalam 2-3 Tahun ke Depan, Prabowo Subianto Optimistis Mampu
Tingkatkan Mata Uang Lokal dalan Transaksi Bilateral, Bank Indonesia dan Bank Sentral Uni Emirat Arab Kerja Sama
Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.

Berita Terkait

Selasa, 11 Juni 2024 - 08:07 WIB

Menko Luhut Binsar Pandjaitan Sebut Pertamina akan Akuisisi Produsen Gula dan Ethanol dari Brazil

Selasa, 28 Mei 2024 - 10:45 WIB

PT Sukses Mantap Sejahtera, PT Gunung Madu Plantations, dan PT Pemukasakti Manis Indah Belum Impor Gula

Minggu, 19 Mei 2024 - 12:59 WIB

Bos SpaceX Elon Musk Luncurkan Internet Starlink dengan Jokowi, Hadiri World Water Forum 2024 di Bali

Sabtu, 18 Mei 2024 - 11:53 WIB

Bulog Diminta Serap Hasil Panen Petani, Badan Pangan Nasional Ungkap Produksi Jagung Tengah Melimpah

Kamis, 9 Mei 2024 - 15:44 WIB

Profil Preskom AMMAN Group yang Masuk Jajaran Orang Terkaya RI Versi Media Forbes, Agus Projosasmito

Kamis, 25 April 2024 - 07:27 WIB

Harga Bawang Merah Mengalami Kenaikan, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan Ungkap Alasannya

Rabu, 24 April 2024 - 10:17 WIB

Termasuk PLTA, Indonesia Tawarkan Sejumlah Proyek Strategis dalam World Water Forum ke-10 di Bali

Senin, 8 April 2024 - 05:32 WIB

Biaya Publikasi Press Release dengan Diskon Spesial 50 Persen s/d 31 Juni 2024 di Media Harianinvestor.com

Berita Terbaru